Joko Widodo Menegaskan Negara Dan Rakyat Tidak Pernah Takut Kepada Aksi Terorisme

Promodomino.com Situs Bandar Domino online Agen Domino Online Agen domino99 dan BandarQ terpercaya terbesar di Indonesia

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan negara dan rakyat tidak pernah takut kepada aksi terorisme. Jokowi juga menegaskan aparat tidak akan pernah memberi ruang kepada pelaku terorisme yang berupaya mengganggu upaya keamanan negara.

Hal ini disampaikan Jokowi dalam pernyataan pers menanggapi kerusuhan di Rutan Salemba cabang Kelapa Dua, Depok. Dalam pernyataan pers di Istana Kepresidenan Bogor, Kepala Negara didampingi Menko Polhukam Wiranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala BIN Budi Gunawan, Wakapolri Komjen Syafruddin, Kakor Brimob Irjen Rudy Sufahriadi dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

“Perlu saya tegaskan bahwa negara dan rakyat tidak pernah takut dan tidak pernah akan memberi ruang kepada teroris terhadap upaya-upaya yang mengganggu keamanan negara,” kata Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (10/5).

Jokowi mewakili rakyat Indonesia menyampaikan belasungkawa atas gugurnya lima anggota polisi yang gugur dalam kerusuhan. Dia juga telah memerintahkan ke Wakapolri Komjen Pol Syafruddin untuk memberi kenaikan pangkat luar biasa ke lima anggota polisi yang gugur.

Dalam kesempatan tersebut, kepala negara juga menyampaikan terima kasih kepada aparat keamanan yang terlibat dalam menangani kerusuhan.

Seperti diketahui, Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan operasi pembebasan sandera sudah usai sekitar pukul 07.15 WIB, Kamis (10/5). Sebanyak 155 narapidana teroris telah menyerahkan diri. 145 narapidana langsung dipindahkan ke Nusakambangan. Sisanya masih berada di Mako Brimob.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM, Wiranto, mengatakan seluruh napi terorisme yang ada di Mako Brimob telah menyerah. Mereka menyerah setelah Polri mengultimatum dan melakukan penyerangan terhadap mereka.

“Sudah direncanakan serbuan untuk melucuti, menyerbu mereka di lokasi yang telah kita lokalisasi, kepung, tentunya sesuai dengan standar Polri dan internasional, aparat memberikan ultimatum, jadi bukan negosiasi ya, bahwa kita akan melakukan serbuan. Menyerah atau mau menanggung risiko serbuan itu. Tentu dengan batas waktu,” kata Wiranto.

Narasumber : Merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *